NASIONALISME FARAONIK DALAM NOVEL-NOVEL MESIR MODERN

NASIONALISME FARAONIK
DALAM NOVEL-NOVEL MESIR MODERN

(Sebuah Tinjauan Sejarah Sastra Arab)


Karya sastra bernuansa nasionalis ke-Mesir-an dengan cara mengangkat tema-tema bersetting Mesir (terutama Mesir Kuno) memang sudah muncul sebelum nasionalisme global di wilayah Arab secara umum itu sendiri muncul ke permukaan. Penyair kenamaan Ahmad Syauqi (1868-1932), yang juga terkenal dengan drama sajaknya hingga akhir abad di masanya, memberikan kontribusi tiga novel sejarah dengan tokoh dan setting mengambil perpaduan Mesir dan luar Mesir. Dalam Adhra al-Hind aw Tamaddun al-Fara'ina (Gadis India atau Peradaban Pharaoh), yang muncul di Alexandria pada tahun 1897, Syauqi mengombinasikan cerita sejarah secara acak untuk menceritakan sebuah periode sejarah tertentu. Dalam pandangan Hamilton A. R. Gibb, cerita itu tidak masuk akal, tidak begitu banyak alur cerita (plot)nya hingga seperti kode-kode dalam perdukunan yang menjadi pertanda buruk di hampir setiap halaman. Syauqi tetap setia terhadap bentuk fiksi Arab tradisional. Ia masih membanggakan peradaban masyarakat Mesir masa lampau, sebagaimana ditunjukkan dengan jelas oleh setting dan tokohnya.
Novelnya yang kedua, Ladiyas Aw Akhir al-Fara'ina (Ladiyas, atau Gelar Raja Mesir Kuno Terakhir), yang muncul di Kairo pada tahun 1899, juga serupa dengan novelnya yang pertama. Hanya saja settingnya berada di Mesir, Yunani, dan Persia. Zaman di mana peristiwa itu terjadi tidak diketahui, tetapi diduga kuat bahwa peristiwa itu terjadi pada masa kerajaan/kekaisaran. Ladiyas (mungkin yang dimaksud Lydia), Putri Samos, terselamatkan setelah diculik oleh saudara sepupunya, Poris. Putri itu percaya bahwa penyelamatnya adalah Pangeran Persia Bahram, tetapi dalam kenyataannya ini adalah Pharaoh Hamas (Ahmose), yang menikahinya setelah membunuh Bahram di sebuah perkelahian. Peristiwa ini sangat tidak masuk akal, khususnya perkelahian Hamas dengan singa, di mana Hamas menaklukkan binatang buas, menungganginya, dan kemudian menerbangkannya sampai ke tempat tujuannya di antara sorak kegembiraan dan pujian orang-orang. Cerita-cerita Syauqi menunjukkan minat para penulis Mesir tentang sejarah kuno negeri mereka. Mereka menandai awal munculnya fiksi historis yang mencapai titik kulminasi, seperti dapat dilihat, di dalam penulisan beberapa para novelis seperti Naguib Mahfouz.
Khafaya Misr (Rahasia Mesir) karya Qa'immaqam Nasib Bey, telah diterbitkan dalam tiga jilid pada tahun 1901 dengan mengikuti teknik dan gaya Zaydan. Novel ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu cerita-cerita historis dan kisah cinta. Karena pelaku utama memiliki nama yang sama dengan pengarangnya, novel ini nampak sampai pada taraf penulisan autobiorafi. Pada bagian historis, pengarang berbicara tentang adat kebiasaan orang Mesir, perilaku sosial mereka, serta peperangan.
Karya lain yang juga bernuansa nasionalis adalah sebuah novel berjudul Ishq al-Marhum Mustafa Kamil wa Asma Ashiqatih (Cinta Almarhum Mustafa Kamil dan Nama-Nama Kekasihnya). Karya tersebut berisi tentang sebuah kegairahan cinta. Pengarang, yang menyebut dirinya A.F., menceritakan sebuah hubungan asmara antara Mustafa Kamil (w. 1908), sorang pemimpin nasionalis Mesir dan seorang gadis tetangganya yang yatim bernama Aziza. Cinta yang ajaib ini mulai ketika Kamil dan Aziza masih kecil. Ketika itu mereka bertemu, berpelukan, dan jatuh cinta. Pada awalnya pengarang bersikeras bahwa ini bukanlah cinta khayalan, namun pada bagian akhir ia mengatakan bahwa ini hanyalah suatu cinta simbolis. Aziza melambangkan Mesir yang dicintai oleh Mustafa Kamil dan berjuang membebaskan diri dari penjajah Inggris. Di dalam perjalanan cintanya ini, ia mendapatkan saingan seorang diplomat jahat bernama Victor, yang menyimbolkan imperialisme Inggris. Victor secara terus menerus merencanakan penyerangan terhadap Kamil dan memikat hati keluarga Aziza agar berada di pihaknya dengan menyuap. Keluarga Aziza yang sangat tamak dan egois, membujuknya untuk menikahi Aziza sedemikian sehingga mereka bisa menerima lebih banyak lagi hadiah. Gaya dan teknik pengarang sangat sederhana, dan narasinya terpecah. Bab awal, menyuguhkan perjuangan hidup dan politik Kamil, bisa dihilangkan dari novel tanpa merusak pada alur cerita. Namun cinta simbolis Kamil kepada Aziza dan perjuangannya untuk menyelamatkannya dari Victor yang tamak membuat cerita tersebut menjadi enak dan menyenangkan pada saat itu.
Pada sekitar tahun 1908, terbit sebuah novel dengan judul ‘Adzrâ’ Dansyuai1 (Gadis Dansyuai) yang ditulis oleh seorang sastrawan kenaman Muhammad Husein Haikal. Novel tersebut mengangkat tema perjuangan para petani Dansyuai yang diperlakukan semena-mena oleh kekuasaan kolonial Inggris dan antek-antek pejabat lokal yang loyal terhadap kolonial. Titik klimaks novel ini adalah Keputusan Lord Kromer untuk melaksanakan hukuman gantung massal terhadap para petani dan kemudian disusul pemberontakan para petani.
Setelah berakhirnya PD I, tiba-tiba Mesir mengalami kebangkitan nasionalisme yang ditunjang oleh beberapa faktor, yaitu: (1) kehadiran pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru yang melukai rasa kebangsaan Mesir, (2) pembiayaan besar bagi tentara yang menyebabkan inflasi dan manipulasi yang mengakibatkan penderitaan rakyat berpenghasilan tetap, (3) digunakannya orang Mesir menjadi tenaga kerja Inggris yang mengurangi persediaan buruh Mesir, terutama di bidang pertanian, dan berakibat jatuhnya produksi makanan, (4) naskah Empat Belas Pasal Wilson serta deklarasi Inggris-Prancis (8 November 1918) yang menjanjikan kemerdekaan bagi Negara-negara Arab yang merangsang hasrat yang besar guna meraih kemerdekaan penuh dari pengawasan asing.2
Rasa nasionalisme yang secara umum memang terasa kental pada masa tersebut, ternyata tidak hanya nampak di bidang politik saja, tetapi juga di bidang sastra. Sebelumnya pada tahun 1918, Ahmad Dhaif, salah seorang pengajar di Universitas Mesir, memang pernah menyatakan keinginannya untuk dapat memiliki sastra khas Mesir yang mengungkapkan kehidupan sosial, perkembangan budaya, bahkan penggunaan bahasa serta retorika dan style yang memiliki ciri khas ke-Mesir-an. Di antara tokoh yang cukup memberikan inspirasi lahirnya sastra nasionalis di Mesir adalah Ustâdz al-Jail Ahmad Luthfi al-Sayyid yang pada saat pendudukan penjajah Inggris meneriakkan seruannya yang paling terkenal yaitu Misr li al-Misriyyîn (Mesir untuk Masyarakat Mesir). Dalam sebuah eksperimennya ia menulis sebuah prosa yang berlatar belakang sosial Mesir. Selain itu, munculnya sastra nasionalis di Mesir juga dianggap sebagai aplikasi dari teori Taine dan Brunetieve tentang pentingnya rasa kesukuan (ethnicity) dan pembangunan sastra.
Kondisi Mesir yang tidak bisa memunculkan rasa optimisme telah memberikan inspirasi bagi Haykal untuk menuangkan pemikirannya. Pada tahun 1926, melalui majalah mingguan al-Siyâsah, Haykal melakukan pembelaan terhadap perlunya kembali ke pharaonic lama sehingga lahir istilah pharaonisme yang merupakan bentuk nasionalisme yang menempatkan Mesir sebagai kesatuan nasional.
“Perhatian saya pada sejarah Mesir kuno melampaui perhatian saya pada novel”, itulah kata-kata Mahfouz ketika sekelompok arkeolog Italia yang dipimpin oleh Giuseppe Fanfoni, seorang Egyptolog terkemuka, mengunjungi Mahfouz. Di awal 1920-an ketika Carter menemukan kuburan Raja Tut, Mahfouz masih duduk di bangku sekolah. Di Mesir, penemuan ini tidak hanya mengejutkan namun juga memberikan perasaan bangga pada sejarah kuno bagi masyarakat Mesir. Inilah kemudian yang mendorong Mahfouz untuk pergi ke perpustakaan nasional dan mempelajari buku-buku sejarah. Buku pertama yang ia terbitkan bukan dalam bentuk novel, namun terjemahan dari buku berjudul Ancient Egypt, yang pada waktu itu dibaca oleh hampir semua orang. Ketika Mahfouz memutuskan untuk berkecimpung dalam dunia sastra, ia pun kemudian memilih tema-tema sejarah sebagai bahan inspirasinya. Sebagaimana ungkapan Mahfuz dalam sebuah wawancara dengan Salmawy di harian Al-Ahram edisi 1 - 7 November 2006, No. 818, ia mengungkapkan: “Saya ingin menulis sejarah dalam bentuk fiksi, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Sir Walter Scott pada sejarah Skotlandia. Saya ingin mengulangi apa yang dilakukan oleh Rider Haggard, novelnya berjudul Ayesha yang sangat saya kagumi, pada sejarah Mesir kuno.”
BAHAN BACAAN
Hobsbawm, E. J. Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Hartian Silawati (Penerjemah), Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
Lenczowski, George. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1993.
Barakat, Halim. The Arab World: Society, Culture, and State. Los Angeles: University of California Press, 1993.
Salmawy, Mohamed. “The Pharaonic phase” dalam Al-Ahram, 1 - 7 November 2006 Issue No. 818


Catatan Kaki

1 Keputusan otoritas sastra di Mesir menetapkan bahwa novel Zainab merupakan novel dalam bahasa Arab yang pertama kali, meskipun lima tahun sebelum itu Husein Haikal sudah pernah menulis novel ‘Adzrâ’ Dansyuai. Keputusan tersebut diambil dengan alasan penggunaan bahasa ‘ammiyah dalam ‘Adzrâ’ Dansyuai.
2 George Lenczowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1993, hal. 299.

0 komentar: