penyair Arab dari masa ke masa

A. Pendahuluan
    Segala puji hanyalah milik Allah SWT dan shalawat serta salam teruntuk baginda Nabi Muhammad SAW.
    Makalah ini akan membicarakan seputar tokoh syair dan tujuannya dari masa kemasa serta  keistimewaannya. Yang akan ditinjau dari segi lafaz, uslub, makna, dan Khayyal, atau yang lebih dikenal dengan al-anashirul arba'ah.
Madah, Washof, Ghazal, Haja, Hikmah, dan lain-lain adalah yang kerap kali kita temukan pada agradusysyi'ri (tujuan syair) dari masa kemasa. Mengingat banyaknya tokoh syair dan  tujuan syairnya. Maka, penulis kiranya membuat pembatasan yang hanya mengangkat seputar Washof dan satu tokoh syair dari masa kemasa.
    Untuk lebih mempermudah penulis dalam menyusun makalah ini, penulis akan membuat pemetaan yang berkaitan dengan pembagian sejarah sastra arab, terbagi kepada beberapa masa, yaitu: (a) Masa Jahiliyah, (b) Masa Shidrul Islam, (c) Masa Amawi, (d) Masa Abbasiyah satu, dua, dan tiga, (e) Masa Adduwal al-Mutatabi'ah, dan (f) Ashrul Hadits.

B. Pembahasan
1)    Amru'ul Qais  (Penyair Pada Masa Jahiliyah)
Amru'ul Qais bin Hujr bin Amru al-Kindi adalah nama lengkapnya, yang dilahirkan di Najad  yang berasal dari Yaman.  Ibunya bernama Fatimah binti Rubai'ah. Sedangkan bapaknya seorang raja dari kalangan Bani Asad.
Jika ditilik dari segi syairnya, dia adalah penyair yang terkenal, yang dapat mempengaruhi manusia pada masanya dan syairnya banyak dihafal, sehingga suku Qurais sangat kagum melihat syairnya yang banyak digantung di dinding Ka'bah. Adapun syair Amru'al Qais, sebagian besar terpengaruhi oleh masa mudanya, dia adalah pemuda yang hidup sangat mewah dengan mengumpulkan para pemuda-pemudi dan orang kaya kemudian dia mengungkapkan dari segi kehidupannya.
Berdasarkan berbagai literatur yang penulis baca, maka Amru'ul Qais termasuk penyair yang sangat kental dengan syair washof-nya, yang senantiasa terkenal dengan mendeskripsikan malam bagaikan ombak lautan. Dibawah ini contoh syairnya:
وَليلٍ كموج البحـر أرخى سدوله    علي بـأنواع الـهموم ليـبتلي
فـقلت لـه لمـا تمطى بجـوزه    وأردف أعجازا وناء  بكلـكل
ألا أيـها الليل الطويل ألا نجـلي    بصبح وما الإصباح منك بـأمثل
Artinya:
Beberapa malam bagaikan ombak lautan, menutupkan kelambunya yang pekat kepadaku secara beruntun dengan berbagai kesusahan untuk mengujiku.
Maka aku bertanya kepanya, mengapa engkau memanjangan pertengahan malam ini?, dan akupun mengikutimu sampai akhir malam untuk bangun dipagi hari.
Perhatikan, wahai malam yang panjang, tidakkah engkau menjadi terang untuk meninggalkan pagi hari, dan tidaklah terang dipagi hari melainkan menjadi hina disisimu.
Keterangan:
Jika dilihat dari segi ilmu Arud, maka syair tersebut tertimbang dengan Bahar Thowil (فعولن مفاعيلن فعولن مفاعلن), sedangkan dari segi qawafi, syair tersebut tergolong qashidah lamiyah yaitu qashidah yang selalu diakhiri pada akhir baitnya dengan huruf  lam. Dibawah ini analisis berdasarkan anashirur arba'ah.


a)    Dari segi lafaz
Ditinjau dari ilmu Nahu, pada permulaan syair Amru'ul qais di atas diawali dengan huruf  wawul qasam, dia bersumpah dengan kegelapan malam. Sedangkan pada syatar pertamanya terdiri dari huruf jar yaitu ك littasybih, kemudian tersusun dengan mudaf dan mudaf ilaih yaitu kata موج البحر . sedangkan pada kata  أرخى kalau dilihat dari ilmu shoraf maka tergolong isim tafdhil dimana asalnya رخى.
b)    Dari segi  Uslub
Jika dilihat uslub yang terkandung dalam syair Amru'ul  Qais di atas, yaitu pada bait pertama yang mencakup unsur taysbih tamtsil didalamnya, yaitu tasybih yang bilamana wajah-syabahnya berupa gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal. Amru'ul Qais menyerupakan malam dengan ombak laut, dan malam-malam itu menutupkan kelambunya disertai berbagai kesusahan dan penderitaan untuk menguji kesabaran dan kekuatan mentalnya.
c)    Dari segi makna
Arkha artinya arsala atau asbala, suduula jamak dari sadala yaitu hijab atau tutupan, sedangkan yabtali dari kata ibtilaa'an yaitu ujian.
Sungguh malam yang gelap gulita telah mengelilingi/mengepung aku kemudian aku menyempurnakan tutupan sehingga aku tidak melihat sedikitpun. Seolah-olah terputusnya malam dengan ombak laut yang besar lagi menakutkan, ketika aku menutup penglihatan kedua mataku, maka aku merasakan kebimbangan dari berbagai arah, tetapi aku harus sadar bahwa hal itu menandakan aku untuk berlaku sabar.

d)    Dari segi khayal
Berangkat dari pemaparan makna yang yang termaktub diatas, maka menurut hemat penulis, Amru'ul Qais mengajak kepada pendengar atau pembaca syair tersebut, agar sadar bahwa hidup ini selalu diberikan ujian, sedangkan sebagai solusinya adalah agar sabar menghadapinya.

2)    Ka'ab bin Zuhaer (Penyair pada masa Shidrul Islam)
Ka'ab bin Zuhaer bin Abi Sulma adalah salah satu tokoh transisi (pernah hidup pada masa jahiliyah dan Islam), dan pemilik qashidah (Baanat Su'ad) dalam memuji Rasulullah SAW. Pada permulaan Islam saudaranya Ka'ab bin Zuhaer yaitu Bujaer pergi kepada Rasulullah untuk mengislamkannya.
Ka'ab bin Zuhaer terlahir dari keluarga penyair, bapaknya seorang penyair terkenal, kakeknya Rubai'ah bin Riyah seorang penyair, saudaranya Bujaer juga seorang penyair, anaknya (Uqbah) seorang penyair.
Mengingat Ka'ab bin Zuhaer yang hidup pada dua masa (Jahiliyah dan Islam), tentu mengindikasikan bahwa Ka'ab bin Zuhaer banyak terpengaruh oleh masa jahiliyah dalam pembuatan syairnya, sedangkan masa Islam tidak terpengaruh dalam syairnya.
Adapun keistimewaan syair pada masa permulaan Islam adalah banyaknya syair yang memiliki agrad pujian terhadap Nabi SAW, meskipun demikian, namun menurut hemat penulis, tidak menutup kemungkinan di dalam pujian disana terselip unsur deskriptif (washof) terhadap Nabi SAW. Seperti beberapa bait syair Ka'ab bin Zuhaer dibawah ini.
إن الرسول لسيف يستضاء بـه    مهند من سيوف الله مسلول
في عصبة من قريش قال قائلهم    ببطن مكة لما أسلموا زولوا
زالوا فما زال أنكاس ولاكشف     عند اللقاء ولا ميل معازيل
    Artinya:
    Sesungguhnya Rasulallah SAW bagaikan pedang yang dibuat dari negeri India yang dapat memberikan cahaya disekelilingnya, sehingga beliau diberi gelar dengan pedang yang dihunus.
    Di dalam suku Qurays sesorang bertanya kepada mereka, kenapa mereka masuk Islam di jantung kota Mekah, sedangkan mereka tidak teguh menjalankan ajaran Islam
    Orang-orang penakut yang lari dari medan perang, dan mereka takut bertemu dengan musuh.
Keterangan:   
Jika dilihat dari segi ilmu Arud, maka syair di atas tertimbang dengan bahar basid ( مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن ), sedangkan jika diperhatikan secara teliti menurut ilmu qawafi maka qashidah/syair di atas tergolong qashidah-lamiyah yaitu qashidah yang selalu diakhiri dengan huruf  lam pada akhirnya. Berikut analisis berdasarkan anashirul arba'ah. (penulis hanya menjelaskan bait pertama)
a.    Sari segi lafaz
Ka'ab bin Zuhaer mengawali bait syairnya dengan huruf  taukid yaitu إن  dengan maksud untuk menguatkan bahwa benar-benar Rasulallah SAW yang ia puji, mengingat pada waktu itu banyak lahir nabi-nabi palsu. Sedangkan pada kalimat berikutnya menggunakan lamuttaukid, dengan maksud benar-benar diserupakan dengan pedang, yang melambangkan keberanian. Adapun dari struktur Nahunya maka kalimat itu dapat dirangkaikan menjadi  لسيف مهند.


b.    Dari segi Uslub
Secara garis besar, uslub syair jahiliyah banyak dipengaruhi oleh uslub al-Qur'an dan Hadits. Meskipun pada waktu itu, Ka'ab bin Zuhaer dalam menyusunnya tidak dipengaruhi oleh uslub pada masa Islam, namun tidak menutup kemungkinan disana terselip nuansa-nuansa keislaman.
Bila ditinjau dari segi balagha, maka pada bait pertama yang terdapat pada syatar pertama, mencakup unsur isti'arah (taybih yang dibuang salah satu tarafnya) pada kata إن الرسول لسيف يستضاء به . yaitu dengan diserupakan Rasulallah SAW dengan pedang.
c.    Dari segi makna
Secara garis besar, syair pada masa Islam berusaha menjelaskan Aqidah Islamiyah, sedangkan arti-arti syair banyak mengekspresikan tentang taqwa kepada Allah SWT, namun yang sangat menarik adalah terjadinya dikotomi antara makna syair pada masa Jahiliyah dan masa Islam, namun perbedaannya tidak begitu signifikan.
Berangkat dari pemaparan diatas, meskipun Ka'ab bin Zuhaer dalam bait-bait syairnya dalam kontek pujian kepada Nabi SAW, namun tidak menutup kemungkinan bahwa disana ada unsur washof  yaitu Nabi SAW oleh Ka'ab bin Zuhaer dideskrifsikan dengan pedang.
d.    Dari segi khayyal
Menurut hemat penulis, syair tersebut mengindikasikan bahwa Nabi SAW begitu berani dalam menumpas kebatilan yang tak mengenal kompromi, mengingat pada waktu itu terjadi masa transisi dari Jahiliyah ke Masa Islam. Jika syair tersebut dibawah ke-ranah dewasa ini, maka kita dituntut untuk selalu menerangi atau menebarkan kebaikan pada segala lini kehidupan. Yang benar dikatan benar yang salah dikatakan salah, itulah kehidupan yang sesungguhnya.

3)    Al-Farazdaq (penyair pada masa Amawi)
Abu Firas Hammam bin Ghalib at-Tamimi ad-darami adalah nama lengkapnya, beliau adalah salah satu dari tiga tokoh syair pada masa amawiyah yang paling mulia/agung. Dilahirkan pada tahun 19 Hijriyah dan dibesarkan di Bashrah dikalangan kefashihan bapaknya dan sukunya sejak beliau menjadi penduduk Mesir. Jika dilihat dari karakteristik Farazdaq beliau adalah seorang sangat cerdas, beliau menikah lebih dari satu, sedangkan dari ranah-ranah syairnya beliau adalah penyair yang terkenal, dan terpengaruh dengan kehidupan yang nomaden yang tampak dalam aspek makna dan uslub syairnya, meskipun demikian tak ketinggalan juga di dalam syairnya banyak terselip makna yang bernuansa Islam.
Berangkat dari itu semua, menurut hemat penulis bahwa keistimewaan syair yang terdapat pada masa amawi adalah tentang al-fakhar (bangga terhadap qabilah/kelompok) meskipun di sana ada keistimewaan yang lain yang terselip di dalam syairnya tentang syiir siyasi, madah, dan haja' itu semua kurang ditonjolkan. Dibawah ini contoh dari syair Farazdaq yang memiliki tujuan al-fakhar, namun meskipun demikian, di dalam al-Fakhar itu juga ada tujuan al-Washof.
لنا العزة القـعساء و العـدد الذي    عليه إذا عد الحصى يتخلف
ترى الناس ما سرنا يسيرون خلفنا    وإن نحن أومأنا إلى الناس وقفوا
وقد عـلـم الجـيران أن قـدورنا     ضوامن للأرزاق والريح زفزف
        Artinya:
        Kami mempunyai kemulyaan yang tetap dan jumlahnya yang apabila di hitung selalu berbeda.
        Engkau menyaksikan manusia, yang dimana mereka berjalan disamping kami, dan kami memberikan isyarat atau aba-aba kepada mereka agar mereka berhenti.
        Sungguh tetangga mengetahui, bahwa kemewahan/kekayaan kami sebagai jaminan rejeki dan angin yang menghembus kencang.
Keterangan:
        Dilihat dari ilmu Arud bait syair Farazdaq di atas tertimbang dengan bahar  thowil  (فعولن مفاعيلن فعولن مفاعلن), berikut analisis berdasarkan anashirul arba'ah:
a)    Dari segi lafaz
Lafaz yang terdapat dalam syair Farazdaq banyak terpengaruhi oleh lafaz-lafaz yang islami.
Al-Farazdaq mengawali bait syairnya dengan menggunakan huruf jar lam yang ber-arti kepunyaan, hal ini mengindikasikan bahwa syair ini menunjukkan tentang kebahagiaan, seolah-olah kabilah lain tidak memilki kemulyaan.
b)    Dari segi Uslub
Secara garis besar, syair pada masa amawi uslub syairnya sangat heterogen antara kuatnya keserupaan dengan uslub-uslub syair Jahiliyah yaitu antara kuat dan mudah, adapun uslub qawiyah yang kerap kali dijumpai pada syair Farazdaq sedangkan uslub wasath (sedang) dijumpai pada syair Imran bin Haththan.
Menurut hemat penulis, kata al-Izzah pada bait pertama yang terdapat pada syatar pertama, disana ada uslub kinayah (lafaz yang dimaksudkan untuk menunjukkan pengertian lazimnya, tetapi dapat dimaksudkan untuk makna asalnya). Al-Izzah artinya kemulyaan, namun menurut kontek syair tersebut tentang kebanggaan, jadi penulis menyimpulkan, bahwa kemulyaan itu diraih karena banyaknya hamba sahaya yang mereka miliki (terutama kakeknya farazdaq –Sho'sho'ah-), dan adanya loyalitas sukunya.
c)    Dari Segi Makna
Makna syair yang terdapat pada masa amawi mencakup antara makna jahiliyah dan Islam, mayoritas penyair yang hidup pada masa Amawi bertolak pada makna Jahiliyah seperti penyair Farazdaq dan Jarir, meskipun demikian mereka juga memiliki wawasan dalam menyusun syairnya dengan memasukkan makna Islami dalam menjelaskan aqidah islamiyah dan tata cara menyampaikan dakwah.
Arti-arti yang yang terdapat di dalam syair Farazdaq adalah tentang kemegahannya yaitu kemulyaan, banyak jumlah budak yang ia miliki, dan kesetiaan sukunya.
d)    Dari Segi Khayyal
Berangkat dari itu semua, maka syair tersebut seolah-olah mendeskrifsikan bahwa kemulyaan itu diperoleh hanya bagi orang yang memiliki banyak hamba sahaya dan loyalitas sukunya. Padahal kalau disadari itu semua semata-mata pemberian dari Allah SWT, tak pantas bagi hamba-Nya untuk bersikap takabbur atau membanggakan diri.

4)    Abu Tamam (Penyair pada masa Abbasiyah I)
Seperti yang penulis sampaikan pada muqaddimah, bahwa masa Abasiyah terdiri dari tiga periode yaitu periode pertama menjelaskan tentang Sastra pada masa Abasiyah, yang terdapat didalam tokoh syair yang terkenal dengan madahnya –Abu Tamam, al-bukhturi, Abu Thaiib al-Mutanabbi, periode kedua yang mencakup sastra dakwah Islamiyah pada masa perang salib, dan periode ke tiga, sastra pada masa Andalusia. Pembahas hanya mengangkat keistimewan syair dan tujuannya pada periode Abbasiyah yang pertama, dengan mengambil tokoh Abu Tamam.
Habib bin Aus at-tho'i  nama lengkapnya, dilahirkan pada tahun 188 H di desa Jasim yang berdekatan dengan Damaskus, berbagai persepsi sejarawan sastra tentang bapaknya yang beragama Kristen.
Abu Tamam tergolong tokoh syair pada masa Abbasi, disamping itu beliau juga pemilik Madrasah Syi'riyah Mutamaizah. Dilihat dari ranah-ranah bait syairnya beliau banyak memuji para penguasa pada masanya. Berikut petikan bait syair Abu Tamam pada saat memuji Mu'tashim.
السيف أصدق أنباء من الكتب    في حده الحد بين الجد واللعب
بيض الصفائح لاسود الصحائف في        متونهن جلاء الشك والريب
والعلم في شهب الأرماح لامعة    بين الخمسين لافي السبعة الشهب
Artinya:
Pedang itu lebih benar beritanya dari pada buku-buku, pada bagian batas yang diasah antara pemisah yang sungguh-sungguh dan main-main.
Putihnya besi pedang  bukanlah hitam kertas yang ditulis dalam satu keperluan dan perjanjian, pada tumpulnya pedang yang dapat mengungkapkan keraguan dan kebimbangan.
Dan mengetahui dalam kilatan tombak yang berkilau, disekeliling lima puluh tentara bukan pada tujuh pelanet yang bersinar.
Keterangan:
    Bait syair Abu Tamam di atas jika dilihat dari ilmu Arud, maka syair tersebut tertimbang dengan bahar basith (  مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن ), berikut analisis berdasarkan anashirul arba'ah.


a)    Dari segi Lafaz
Lafaz yang terdapat dalam syair Abu Tamam banyak yang terpotong-potong dan dijumpai dalam bait syairnya kata-kata asing yang susah untuk difahami, menurutnya syair itu adalah proses berpikir secara intensif.
Pada  bait pertama yang terdapat pada syatar pertama, Abu Tamam menggunakan kata ashdaqu yaitu kalau dilihat dari ilmu shorof  termasuk isim tafdil, dengan maksud membandingkan kualitas antara yang satu dengan yang lainya. Hal ini menandakan adanya pujian yang teselip dalam syair yang dimaksud.
b)    Dari Segi Uslub
Abu Tamam dalam pembuatan syair banyak diperbantu dengan memasukkan dalam rangkean bait syairnya dengan unsur-unsur tasybih, isti'arah dan juga banyak dalam syairnya terdapat muhassinat lafziyah seperti thibaq dan jinas.
Pada syatar pertama di atas, terdapat unsur isti'arah, mengingat syair itu dalam kontek memuji kepada al-Mu'tashim (yaitu kholifah pada masa itu), Abu Tamam diserupakan dengan pedang yang menggunakan isti'arah tashrihiyah. Syair ini juga bukan hanya memiliki tujuan memuji namun bercerita tentang kepahlawanan, karena pada waktu itu mu'tashim sangat ulet atau gigih dalam berperang.
c)    Dari Segi Makna
Sangat sulit untuk memahami makna syair Abu Tamam sehingga membutuhkan pemikiran yang yang mendalam untuk memahaminya. Berikut petikan arti kata yang terdapat dalam Diwan Abu Tamam.
    حده : حد السيف أي جانبه الحاد المشوذة.    الحد: الفاصل الحاجز بين الأمرين.   الصفائح: جمع صفيحة: وهي الحديدة العريضة والسيف العريض.  الصحائف: حمع صحيفة: الورقة ومايكتب في الحاجة والعهد.  متونهن: جمع متن, والمراد هنا الجانب المقابل للحد من اليسف.  جلاءك كشف.   الخمسين: الجيشين.     السبعة الشهب: الكواكب السبعة.
d)    Dari Segi Khayyal
Syair ini menegaskan kepada kita bahwa benar kiranya, pedang itu lebih benar dari pada buku-buku, dengan ungkapan lain pedang tidak pernah berbohong, yang tajam dikatakan tajam, tumpul dikatakan tumpul, adapun buku adalah rekaan manusia, bisa saja ada unsur sujektif di dalamnya, dengan artian sesuai pesanan.

5)    Al-Bushiri  (penyair pada masa ad-duwal al-mutatabi'ah)
Adalah seorang penulis syair sufi, Syarafuddin Muhammad bin Sa'id bin Himad ash-shonhaji al-bushiri nama lengkapnya, beliaulah pemilik burdah dan hamziyah (kashidah yang berakhiran hamzah), dilahirkan di Dalas pada tahun 608 H dan dibesarkan di Bushir kemudian pindah ke Kairo untuk belajar bahasa dan sastra Arab, beliau adalah si penulis surat yang sangat unik pada masanya.
Di antara keistimewaan syairnya adalah adanya ketenangan (ar-roshanah) dan kesederhanaan (al-Jazalah), sangat indah kata-katanya dalam memuji Nabi SAW. Adapun syairnya yang paling terkenal adalah al-burdah setelah banat su'adnya Ka'ab bin Zuhaer dan dan qashidah hamziyahnya.
Berdasrkan pemaparan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa keistimewaan syair pada masa ad-duwal al-mutatabi'ah masih didominasi oleh unsur-unsur madah, yang lebih difokuskan kepada Nabi SAW. Berikut contoh dan analisis qashidah Hamziyah al-Bushiri berdasarkan anashirul arba'ah.

كيف ترقى رقيك الأنبياء        يا سماء ما طاولتها سماء
لم يساووك في علاك وقد حا    ل سنى منك دونهم وسناء
Bagaimana engkau (Muhammad SAW) meningkatkan derajat para nabi ?, wahai cakrawala/langit  tidaklah berlomba-lomba segala sesuatu yang ada di atasmu.
Tak ada yang menyamai kemulyaanmu,  dan seketika pancaran kilatan dari sisimu bukan berasal dari mereka.
Keterangan:
Bait syair di atas tertimbang dengan bahar Khafif (( فاعلاتن مستفعلن فاعلاتن, dikatakan qashidah hamziyah karena setiap akhir baitnya terdapat huruf hamzah.
a)    Dari Segi Lafaz
Pada permulaan syair al-Bushiri di atas diawali dengan menggunakan istifham tanda tanya kaifa, ini artinya adalah adanya interaksi antara Nabi SAW dengan al-Bushiri tatkala syair tersebut diucapakan. Sedangkan pada syatar kedua menggunaan ya unnida lil qarib  yaitu nada panggilan yang dekat. Ini artinya bahwa yang dipanggil itu sudah diketahui/dikenal orangnya.
b)    Dari segi uslub
Secara garis besar uslub syair al-Bushiri banyak dipengaruhi oleh unsur tasawuf, karena beliau juga seorang sufi.
Kalau diperhatikan bait pertama yang terdapat pada syatar kedua yaitu ada dua kata sama', sama' pertama berarti langit/cakrawala sedangkan yang kedua berarti segala sesuatu yang ada di atas dirimu, maka syair al-Bushiri terdapat muhassinat lafziyah yaitu Jinas (kemiripan pengungkapan dua lafaz yang berbeda artinya)



c)    Dari segi Makna
Komentar penulis tentang makna syair al-Bushiri banyak dipengaruhi makna-makna Islami. Karena, seperti yang terdapat dalam literatur al-Bushiri adalah seorang penyair sufi.
d)    Dari segi khayyal
Seolah-olah al-Bushiri mengajukan pertanyaan kepada Nabi SAW, agar Nabi SAW mendeskrifsikan tingkatan derajat para Nabi, dimana tak ada seorangpun yang menyamai kemulyaan mereka.
Bagi dewasa ini, syair ini mengajarkan kepada kita agar berlomba-lomba dalam meningkatkan kemulyaan dalam menggapai hidup bahagia dan akhirat. Atau dengan kata lain, agar kita meneladani karakteristik para Nabi.

6)    Ahmad Syauqi (Penyair pada masa modern)
Ahmad Syauqi bin Ali Syauqi bin Ahmad Syauqi adalah nama lengkapnya, dilahirkan pada tahun 1285 H di Mesir dan dibesarkan di lingkungan Arab yang kental akan keberislamannya. Dari situ beliau mulai menimba ilmu pengetahuan di Madrasah Huquq, dengan mengambil jurusan Tarjamah. Sedangkan bapaknya karyawan di bea cukai Mesir.
Syauqi adalah penyair Istana, di antara keistimewaan aqradusysyi'ri pada masa modern adalah adanya syi'ir masrahi (syiir drama) dan syiir wathoni (syair tentang cintah tanah air), yang tak dijumpai pada masa-masa sesudahnya. Ahmad Syauqipun termasuk di dalamnya sebagai tokoh masrahiyah.
Washof, madah, rosa', gazal, syi'rul wathoni, syi'rul ijtima'i, dan syi'rul masrahi adalah tujuan syair yang terdapat pada masa  modern. Syair washof paling banyak di jumpai dalam bait-bait syair Ahmad Syauqi. Berdasarkan itu semua, menurut hemat penulis, keistimewaan syair pada masa modern masih di dominasi oleh washof. Berikut petikan contoh syair washof Ahmad Syauqi.
قـم للمعـلم وفـه التبجـيل    كاد المعلم أن يكون رسـولا
أعلمت أشرف أو أجل من الذي    يبنى, وينشئ أنفاسا وعقولا؟
سبحانك اللهم خير معلم        علمت بالقلم القرون الأولى
Bangunlah untuk memberi penghormatan kepada guru, karena hampir guru itu menjadi Rasul.
Beliaulah yang mengajari aku, sehingga aku menjadi orang terhormat agung, siapakah yang membangun dan mendirikan jiwa dan akal?
Sungguh suci engkau ! ya Tuhan berilah kebaikan kepada guru yang telah mengajari aku dengan pena yang pertama kali.
Keterangan:
Syair di atas tertimbang dengan bahar kamil (( متفاعن متفاعلن متفاعلن, di bawah ini analisis berdarskan anashirul arba'ah.
a)    Dari Segi Lafaz
Lafaz yang terdapat pada syair masa modern ada empat kelompok: kelompok pertama, sangat berpegang teguh pada kefashihan lafaz dan keagungan/keluhuran uslub, kedua, berpegang pada keorisinilan lafaz agar uslubnya tetap kuat. Menjelaskan dengan menggunakan balagha, ketiga, lafaznya terpengaruh oleh sastra barat, dan keempat, tidak begitu perhatian terhadap kefasihan lafaz sedikitpun, tetapi mereka sangat tertarik dengan uslubnya.
Pada syatar pertama, yaitu pada kata wifha asalnya wafiihi, karena darurat syiir. Dan Syauqi menggunakan fiil amar dalam memulai syiirnya kemudian Syauqi menggunakan af'alul muqarabah yaitu  fiil yang mengandung arti dekat.
b)    Dari segi Uslub
Jika diperhatikan syair Syauqi diberbagai literatur, maka selalu menggunakan satu wazan dan berqofiyah, seperti petikan contoh syair di atas yang terdapat pada syatar kedua, selalu menggunakan kofiyah pada ujungnya.
c)    Dari Segi Makna
Secara garis besar, makna syair pada masa Modern ada yang menerima dan menolaknya, dikerenakan ada reaksi bagi orang yang mencermatinya secara mendalam dan pada waktu itu peradaban manusia sudah lebih maju bila dibandingkan dengan masa jahiliyah, sehingga mayoritas mereka memiliki penafsiran yang berbeda-beda.
d)    Dari Segi Khayyal
Syair ini mengajarkan kepada kita, bahwa hormat kepada guru merupakan suatu kewajiban sang murid, sebagaimana kita menaruh penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena, menurut Ahmad Syauqi hampir derajat guru itu menyamai derajat para Rasul, kalau Rasul menyampaikan amanat kepada umatnya maka tak kalah pentingnya gurupun mencerdaskan anak-anak bangsa.

C. Penutup
    Syair dari masa ke masa memiliki keistimewaan tersendiri. Seperti terlihat pada masa Jahiliyah, dimana aqrad syiri-nya didominasi oleh washof, Amru'ul Qais misalnya, adalah salah satu contoh pada masa itu, yang sangat tersohor namanya ketika mendeskrifsikan malam bagaikan lautan. Kemudian Ka'ab bin Zuhaer yang hidup pada masa permulaan Islam dan sangat terkenal dengan banat su'adnya, keistimewaan syair pada masa ini masi didominasi oleh madah yang dikhususkan kepada Nabi SAW.
    Al-Farazdaq adalah penyair yang hidup pada masa Amawi, dimana keistimewaan syair pada masa ini adanya kebanggaan terhadap suku atau yang lebih tepat disebut al-fakhar. Al-Busyiri adalah penyair yang hidup pada masa ad-duwal al-mutatabi'ah, beliau adalah pemilik burdah dan hamziyah, pada masa inilah bangkit kembali agrad syi'ri al-madah. Yang terakhir adalah penyair yang lalang-melintang hidup pada masa modern dia adalah Ahmad Syauqi, secara garis besar keistimewaan syair pada masa modern ditandai dengan adanya syiir masrahiyah dan syiir wathoni, kendatipun demikian washof  masih mendominasi pada  masa modern, seperti banyak terdapat dalam bait syair Ahmad Syauqi.

DAFTAR PUSTAKA

Bin Husain, Muhammad bin Saad  , al-Adabul Arabi wa Tarikhuhu, al-Mamlakatul Arabiyah: Jami'ah al-Imam Muhammad bin  Su'ud al-Islamiyah, 1410, cet. ke-4.

Faisal, Abdul Aziz bin Muhammad al-Adabul Arabi Watarikhuhu, Riyad: Jami'ah Imam bin  Su'ud al-Islamiyah, 1402 H.

Iskandi, Ahmad dan Mushtofa Anani, al-Wasith  fi al-Adabil Arabi Watarikhuhu, Mesir: Darul Ma'arif, 1916M, cet. ke-18,

Jarim, Ali dan Mushthofa Amin, al-Balaqah Al-qadihah, Mesir: Dar al-Ma'arif, t.t.

Lajnah Min al-Asaatizah Bil 'aqthoor al-Arabiyah, Al-Muujiz Filadabil Arabi Watarikhuhu, Libanon: Darul Ma'arif, 1962.

Lubis, Nabilah, al-Muin fil-adabil Arabi Watarikhuhu, Jakarta: Fakultas Adab dan Humaniora, 2005.

Rabi', Muhammad bin Abdurrahman, al-Adabul Arabi Watarikhuhu, al-Mamlakah al-Arabiyah as-Su'udiyah: Jami'ah al-Imam Muhammad bin  su'ud Islamiyah, 1318 H.

0 komentar: