TIGA BUAH PUISI

PUISIKU DAN PERUMPAAN

Seumpamanya kata tak pernah menjadi puisi
Apakah kata akan tetap menjadi manis?
Terus pada senja hari,
Seumpamanya matahari enggan terbenam
Apakah kita juga enggan untuk pulang?
Seumpanya di persimpangan jalan wanita yang kita tunggu
Tak kunjung-kunjung jua muncul apakah kita masih tetap menunggu?
Ah,mungkin akan banyak sekali jawaban
Dan diam-diam kita menimbang bimbang.

Seumpanya kita tak lagi peduli pada berita-berita,
Bagaimana jadinya?
Atau mungkin, tak peduli lagi pada pembicaraan kebudayaan, misalnya.
Apa yang kita bicarakan sehari-hari?
Mungkin kita akan membicarakan
Pulsa kita yang selalu habis, atau fashon-fashion asing……
Yang sebenarnya menjadikan kita menjadi aneh.
Seumpamanya saja kita tak membicarakan keuangan
Mungkin kita akan mebicarakan
Tagihan air sehar-hari, atau tagihan listrik
Mungkin juga barang-barang elektronik terbaru yang tak mampu kita beli.

Ah, seandainya saja setiap orang tak peduli lagi dengan keadaan…
Seandainya saja orang-orang selalu sibuk-
Dengan perumpaan-perumpaannya sendiri
Mungkinkah aku masih menulis puisi?.

TIGA BURUNG HANTU

Dalam malam-mu kau mengganggu malamku
Hingga mimpi-mimpi ini menjadi pahit.
Perlahan kau hadirkan berjuta-juta umpatan
Pada kata-kata yang rasanya semakin tandas saja.
Sebab,
Semua keperkasaan dalam kata-kata dicemooh begitu saja
Hingga pudar untuk dikatakan dalam kenyataan.

KIRA-KIRA SEPERTI INI…..

Seorang anak dusun, turun kota
Kemudian menjadi asing
Setelah iapulang….
Karena kelihatannya ia tak diterima dikota-
Dan ia masih ingin lari dari desanya…..

Catatan: "Puisi-puisi ini dibuat dan dibacakan untuk memenuhi undangan komunitas kolekan tahun 2010"

0 komentar: